Suku Tengger

By   January 22, 2015
Share

Suku Tengger

Suku TenggerSuku Tengger Bromo adalah sebuah suku yang tinggal di sekitar lereng Gunung Bromo, Jawa Timur. Suku Tengger menempati sebagian wilayah Kabupaten Pasuruan, Lumajang, Probolinggo, dan Malang. Suku Tengger merupakan sub suku Jawa menurut sensus BPS tahun 2010

Ada 3 teori yang menjelaskan asal nama Tengger:
1. Tengger berarti berdiri tegak atau berdiam tanpa gerak, yang melambangkan watak orang Tengger yang berbudi pekerti luhur, yang harus tercermin dalam segala aspek kehidupan.
2. Tengger bermakna pegunungan, yang sesuai dengan daerah kediaman suku Tengger.
3. Tengger berasal dari gabungan nama leluhur suku Tengger, yakni Roro Anteng dan Joko Seger.

Masyarakat suku tengger mayoritas memeluk agama Hindhu Mahayana. Sehingga mereka mengenal banyak budaya dan tradisi yang semuanya bertujuan untuk pemujaan dan penyerahan diri kepada Sang Hyang Widhi Wasa, penghormatan terhadap arwah leluhur serta untuk meraih kesucian hidup dan menghilangkan angkara murka di bumi maya pada.

Suku Tengger Bromo mempunyai beberapa budaya dan tradisi yang berkembang, antara lain :
a. Upacara Yadnya Kasada
Upacara Nyadnya Kasada atau Kasodo merupakan sebuah upacara sesembahan berupa persembahan sesajen kepada Sang Hyang Widhi, dilakukan di malam hari di Pura ponten luhur setiap bulan Kasada ( bulan ke-dua belas ) hari-14 tahun Saka dalam penanggalan jawa suku tengger. Semua masyarakat membawa hasil bumi, setelah di Sembahnyangkan di Pura Poten Bromo kemudian di korbankan di kawah Bromo sebagai ungkapan rasa syukur atas rezeki yang diperoleh, (mengenang pengorbanan Raden Kusuma yang di telan oleh Kawah Bromo)

b. Pawai ogoh-ogoh
Tak kalah seru dari Bali yang mengadakan ritual permainan Ogoh-Ogoh di setiap hari raya Nyepi, masyarakat Suku Tengger sendiri pun punya tradisi yang sama yaitu Ogoh-ogoh, dirayakan di hari yang sama menjelang Hari Raya Nyepi pada Upacara Tawur Agung Kasanga dengan diarak beramai-ramai (pawai) keliling desa pada senja hari Pangrupukan ( sehari sebelum hari Raya Nyepi ).
Ogoh-ogoh biasanya berupa perwujudan patung Rakshasa yang digambarkan sebagi sosok besar dan menakutkan, sebagai penggambaran angkara murka dimuka bumi yang harus disucikan / dibakar untuk menuju kebahagiaan / kemakmuran umat manusia.

c. Upacara Karo
Upacara Karo / Hari Raya Karo merupakan hari raya terbesar masyarakat Suku tengger, seperti layaknya Umat Muslim Hari Raya karo bisa di bilang seperti Hari Raya Idul Fitri. Semua masyarakat Suku Tengger bersuka cita. Rumah di hias dengan indah. Warga memakai pakaian terbaik yang mereka punya. Makanan dan minuman disajikan melimpah. Saat bersilaturahmi semua warga harus duduk dan mencicipi sajian yang disediakan. Sebuah kearifan lokal yang menjunjung rasa sosial yang tinggi.

d. Upacara Unan-unan
Setiap lima tahun sekali upacara unan-unan ini dilakukan yang bertujuan untuk mensucikan dari angkara murka (ngruwat) alam semesta yang terdiri dari, langit dan segala isinya. Ruwatan tersebut bukan hanya untuk Suku Tengger saja, tetapi juga untuk seluruh alam semesta. Ritual unan-unan ini dengan mengorbankan seekor lembu dimana kepalanya dijadikan sesaji yang kemudian diarak keliling desa.

e. Kesenian Ojung & tarian Traditional Tengger
Kesenian Ojung merupakan kesenian berupa permainan ketangkasan memakai rotan, biasanya dilakukan oleh kaum pria menjelang acara Kasada, untuk mengadu kekuatan mengingat akan leluhur mereka yang kuat dan gagah perkasa.

Selain budaya dan tradisi diatas, banyak sekali upacara adat, budaya maupun seni tradisi yang dilakukan masyarakat suku tengger baik secara invidu maupun berkelompok ( acara desa ).

Suku Tengger